Arianisme merupakan salah satu ajaran paling berpengaruh sekaligus paling kontroversial dalam sejarah teologi Kristen. Perdebatan yang ditimbulkannya bukan sekadar diskusi akademik, tetapi menyentuh inti iman Kristen: siapakah Yesus Kristus sebenarnya? Apakah Ia Allah sejati, atau hanya ciptaan yang diagungkan?
Arius lahir sekitar tahun 256 M di Libya (Afrika Utara) dan kemudian menjadi presbiter di Aleksandria, salah satu pusat intelektual Kristen pada masa itu. Ia dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan terlatih dalam filsafat Yunani, fasih dalam retorika, dan memiliki kemampuan mengajar yang kuat sehingga ajarannya cepat menyebar.
Arius sangat dipengaruhi oleh tradisi pemikiran yang menekankan keesaan Allah secara mutlak (monoteisme ketat). Dalam upayanya menjaga keunikan Allah Bapa, ia justru mengembangkan pandangan yang merendahkan status Anak (Yesus Kristus).
Kontroversinya dengan uskup Aleksandria, Alexander, berkembang luas hingga melibatkan seluruh Kekaisaran Romawi. Bahkan, konflik ini menjadi begitu serius sehingga memerlukan intervensi kaisar.
Arius wafat sekitar tahun 336 M, tetapi ajarannya terus hidup dan menyebar bahkan setelah kematiannya.
Arianisme berakar pada satu premis utama: Allah itu satu dan tidak terbagi secara mutlak. Dari sini, Arius menarik beberapa kesimpulan:
Pertama: Anak (Yesus Kristus) bukan Allah sejati. Ia tidak kekal seperti Bapa.
Kedua: Anak adalah ciptaan pertama
Ia diciptakan sebelum segala sesuatu, tetapi tetap ciptaan.
Ketiga: “Ada waktu ketika Anak tidak ada” (ἦν ποτε ὅτε οὐκ ἦν). Ini adalah slogan terkenal Arianisme.
Keempat: Anak tidak sehakikat dengan Bapa
Ia hanya serupa (homoiousios), bukan sama (homoousios).
Dengan demikian, Kristus ditempatkan di antara Allah dan ciptaan—lebih tinggi dari manusia, tetapi bukan Allah.
Arianisme tidak muncul dari ruang hampa. Ia dipengaruhi oleh filsafat Yunani (Platonisme dan Neo-Platonisme) yang menekankan hirarki realitas, emikiran tentang ketidakberubahan Allah (immutability)—bahwa Allah tidak dapat “berbagi esensi" dan upaya menjaga monoteisme agar tidak jatuh ke dalam politeisme.
Namun, dalam upaya menjaga keesaan Allah, Arianisme justru mengorbankan kesaksian Alkitab tentang keilahian Kristus (misalnya Yohanes 1:1; Kolose 1:15-20; Ibrani 1:3).
Perdebatan antara Arius dan pihak ortodoks akhirnya memuncak dalam Konsili Nikea (325 M), yang diprakarsai oleh Kaisar Konstantinus. Hasil penting konsili adalah: Menolak ajaran Arianisme, menetapkan bahwa Yesus Kristus adalah “Allah sejati dari Allah sejati”, menegaskan bahwa Anak adalah homoousios (sehakikat) dengan Bapa. Istilah homoousios menjadi kunci dalam melawan Arianisme.
Tokoh utama yang melawan Arianisme adalah Athanasius, uskup Aleksandria. Ia berjuang sepanjang hidupnya untuk mempertahankan iman gereja. Beberapa kontribusinya adalah: menegaskan bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkan; jika Kristus bukan Allah, maka penebusan tidak sempurna; membela doktrin Tritunggal secara konsisten. Ia bahkan mengalami pengasingan berkali-kali, tetapi tetap teguh. Ungkapan terkenal tentang dirinya adalah: Athanasius contra mundum (Athanasius melawan dunia).
Dampak teologis Arianisme adalah: Jika Arianisme diterima, maka Kristologi runtuh: Yesus bukan Allah; Soteriologi terganggu: keselamatan menjadi tidak pasti; Ibadah menjadi problematis: apakah menyembah ciptaan? dan Trinitas kehilangan makna. Dengan kata lain, Arianisme merupakan ancaman terhadap inti iman Kristen.
Walaupun secara historis telah ditolak, pola pikir Arianisme masih muncul dalam berbagai bentuk: (1) Menganggap Yesus hanya guru moral. (2) Menolak keilahian Kristus. (3) Menganggap Yesus sebagai makhluk ciptaan tertinggi. (4) Penolakan terhadap Tritunggal
Konteks ini menunjukkan bahwa Arianisme bukan hanya masalah masa lalu, tetapi tetap relevan untuk diwaspadai.
Arianisme mengajarkan kita bahwa kesalahan kecil dalam memahami Kristus dapat berakibat besar terhadap seluruh sistem teologi. Gereja mula-mula telah berjuang keras mempertahankan iman bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati.
Karena itu, memahami Arianisme bukan sekadar belajar sejarah, tetapi menjaga kemurnian iman Kristen.
Silahkan baca lebih lanjut di:
Athanasius. On the Incarnation. Translated by John Behr. Yonkers, NY: St Vladimir’s Seminary Press, 2011.
Athanasius. Orations Against the Arians. Edited by Philip Schaff. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1983.
Eusebius of Caesarea. The Ecclesiastical History. Translated by Kirsopp Lake. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1926.
Augustine of Hippo. The Trinity (De Trinitate). Translated by Edmund Hill. Brooklyn, NY: New City Press, 1991.
The Council of Nicaea. The Nicene Creed and Related Documents. Various editions. London: SPCK, 1999.
J. N. D. Kelly. Early Christian Doctrines. 5th ed. London: A&C Black, 1977.
R. P. C. Hanson. The Search for the Christian Doctrine of God: The Arian Controversy 318–381. Edinburgh: T&T Clark, 1988.
Rowan Williams. Arius: Heresy and Tradition. 2nd ed. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2001.
Jaroslav Pelikan. The Christian Tradition: A History of the Development of Doctrine, Vol. 1: The Emergence of the Catholic Tradition (100–600). Chicago: University of Chicago Press, 1971.
Alister E. McGrath. Historical Theology: An Introduction to the History of Christian Thought. 2nd ed. Oxford: Wiley-Blackwell, 2013.
Wayne Grudem. Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine. Grand Rapids, MI: Zondervan, 1994.
Karl Barth. Church Dogmatics. Vol. I/1. Edinburgh: T&T Clark, 1936.
Louis Berkhof. Systematic Theology. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1938.
Michael Horton. The Christian Faith: A Systematic Theology for Pilgrims on the Way. Grand Rapids, MI: Zondervan, 2011.
Karl Rahner. Foundations of Christian Faith: An Introduction to the Idea of Christianity. New York: Crossroad, 1978.
Kevin Giles. Jesus and the Father: Modern Evangelicals Reinvent the Doctrine of the Trinity. Grand Rapids, MI: Zondervan, 2006.
Stephen J. Wellum. God the Son Incarnate: The Doctrine of Christ. Wheaton, IL: Crossway, 2016.
Wolfhart Pannenberg. Jesus—God and Man. 2nd ed. Philadelphia: Westminster Press, 1977.
Donald Macleod. The Person of Christ. Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1998.
Fred Sanders. Jesus in Trinitarian Perspective: An Introductory Christology. Nashville, TN: B&H Academic, 2007
Michael Reeves. Delighting in the Trinity: An Introduction to the Christian Faith. Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2012.
James R. White. The Forgotten Trinity: Recovering the Heart of Christian Belief. Minneapolis, MN: Bethany House, 1998.
Matthew Barrett. Simply Trinity: The Unmanipulated Father, Son, and Spirit. Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2021.
Fred Sanders. The Deep Things of God: How the Trinity Changes Everything. Wheaton, IL: Crossway, 2010.
Gilles Emery. The Trinity: An Introduction to Catholic Doctrine on the Triune God. Washington, DC: Catholic University of America Press, 2011.
Salam Bae....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar